Selamalebih dari 15 tahun, kita terkecoh oleh publisitas yang banyak membesar-besarkan tentang musik klasik yang dapat memacu kecerdasan seorang anak. Dulu, sebelum saya mengenal banyak keajaiban Al-Qur'an, saya cenderung memegang pendapat bahwa musik klasik dapat merangsang perkembangan otak janin dan mencerdaskan anak. Padaawal-awal saya memberikan beberapa kutipan ayat yang berisi tentang hal-hal yang berbau tentang berakal, berpikir, berilmu dan pengetahuan. Masyaallah ternyata di alquran teori itu sudah ada sejak 1400-1500 thn yg lalu bahkan sebelum para peneliti tahu. artinya quran ini benar2 dari tuhan bkn dari manusia. maka semakin bertambah Ayat51 Ayat ini menerangkan bahwa Allah membinasakan orang-orang yang sama dengan mereka, yaitu umat-umat yang mendustakan para nabi pada zaman lampau, mereka telah hancur karena pembangkangannya. Peristiwa-peristiwa itu hendaknya menjadi pelajaran bagi kaum kafir Mekah dan bagi siapa saja sesudah mereka beriman. Keduaayat di atas mengandung pelajaran tentang bagaimana cara mengembangkan kecerdasan emosional. Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa dengan sabar dan shalat akan menghilangkan sifat-sifat pemalsuan, takabbur, dan keras hati. abdullah ibn mas'ud) oleh karena itu kita harus bersyukur karena al-qur'an memang dimaksudkan untuk mencerdaskan manusia. 1.perintah untuk berfikir 12 f manusia merupakan ( حينوان نفاطقhewan yang berfikir).berfikir merupakan cirri khas yang membedakan antara manusia dan hewan.melalui potensi yamg allah berikan,manusia mampu untuk cara memperkenalkan diri di grup wa islami. TANYA Benarkah Jika seseorang menghafalkan Alquran a bisa menjadikannya semakin cerdas dan pandai? an apabila jawabannya “tidak”, bagaimana cara agar semakin cerdas di sela–sela belajar dan memelajari hal–hal tentang syariat Islam yang bersumber dari Alquran? JAWAB Menumbuhkan kepandaian bagi manusia merupakan salah satu spesialisasi keilmuan dan pembelajaran kejiwaan yang dilakukan di setiap perguruan tinggi, universitas, lembaga-lembaga pendidikan dan pusat-pusat penelitian. Memiliki kecerdasan yang tinggi merupakan cita-cita bersama bagi kebanyakan para ilmuwan dan peneliti, yang mereka mengerahkan segala potensi dan kemampuan untuk melakukan studi intensif dan penelitian khusus untuk kemajuan hidup manusia. BACA JUGA Baru Berusia 4 Tahun, Noor Makki Hafal Quran beserta Nomor dan Posisi Ayatnya Adapun anggapan hubungan menghafal Alquran dengan bertambahnya kecerdasan bagi penghafal Alquran haruslah disandarkan kepada penelitian ilmiah dan studi intensif yang akurat, yang ujicobanya diberlakukan pada sasaran tertentu dari salah satu mahasiswa tahfizul Quran, lalu dilakukan pemeriksaan tingkat kepandaiannya sebelum dan sesudah menghafal Alquran. Dan yang tentu saja tingkat ketelitiannya sesuai dengan standarisasi tingkat dunia, kemudian dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak memiliki kesibukan menghafal Alquran dengan memperhatikan perbedaan umur dan jenjang pendidikan, lalu hasil dari itu semua merupakan sebuah keputusan yang autentik. Sehingga tatkala kita berbincang dengan banyak kalangan maka perbincangan itu bukan hanya anggapan belaka namun berdasarkan bukti penelitian yang nyata dan jelas, dan kita tidak mengambil hukum berdasarkan sentimentil perasaan. Kita pun juga sudah mendengar bahwa di Al Azhar As Syarif mengadakan penelitian khusus terhadap perkara ini namun sampai sekarang belum ada hasil dan keputusan yang bisa kita jadikan sabagai bahan acuan. Akan tetapi cukuplah bagi kita di sini untuk mengungkapkan bahwasannya menghafal Alquran dan membacanya merupakan sebab terbesar terhadap kejernihan dan kesucian hati dan juga sebab terbesar bagi keberkahan seorang hamba, dan di sini kita bisa mengambil isyarat dari beberapa ketentuan- ketentuan berikut Pertama; Menghafal Alquran merupakan cahaya dari Allah Ta’ala yang ditanamkan kedalam hati hambanya, dan cukuplah apa yang dikabarkan dari Nab SAW “Bahwasannya pembaca Al Qur’an bagaikan buah limau yang rasanya lezat dan juga harum baunya” HR Bukhari dan Muslim dan dari Ibnu Abbas ra ia berkata, Rasulullah SAW bersabda إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ القُرْآنِ كَالبَيْتِ الخَرِبِ رواه الترمذي 2913 وقال حسن صحيح . وصححه الألباني في ” صحيح الترمذي “ “Sesungguhnya seseorang yang didalam hatinya kosong dari Al Qur’an maka ia bagaikan rumah yang roboh atau runtuh “ HR Turmudzi dan ia mengatakan Hadits Hasan Shahih. Dan di Shahihkan oleh Albani dalam “Shahih at Turmudzi” BACA JUGA 10 Keutamaan Penghafal Quran Kedua; Menghafal Alquran merupakan sarana untuk tadabbur, berfikir dan berangan-angan tentang Alquran, dan ia merupakan cara terpenting dalam memperoleh pemahaman agama, serta menjadi cerdas dan peka akan hal–hal yang diridhai lalu kemudian diikuti, dan letak hal–hal yang dibenci lalu ditinggalkan. Ketiga; Alquran al Karim salah satu penyebab kebahagiaan, ketenangan dan ketentraman seorang hamba di dunia dan akhirat, dan menumbuhkan kecerdasan dan kejeniusan yang tidak mungkin dicapai oleh hati yang lalai yang dipenuhi kesedihan dan kekotoran. Keempat; Mengambil ibrah dari para cendekiawan dunia pada dekade awal islam, para penghafal kitab Allah dan Sunnah Rasulnya kita bisa menengok para mufassir agung seperti At Thobari, Al Qurthubi, Ibnu Katsir, Ar Roozi, Ibnu Taimiyyah dan yang lain- lainnya, yang ini membuktikan kepada kita betapa mereka adalah seagung- agung dalil atau atas pengaruh hafalan Alquran pada kejeniusan pikiran. Kelima; Menghafal Al Qur’an Al karim pada hakikatnya adalah membaca dan menelaah secara intensif, banyak para pakar modern ini sepakat bahwa membaca merupakan unsur terpenting dalam menambah kecerdasan bagi para penuntut ilmu, maka bagaimana jika bacaan yang dibaca adalah kalam atau ucapan yang paling mulia, paling baik dan paling suci. Wallahu A’lam. [] SUMBER ISLAMQA Perihal kecerdasan, merupakan salah satu potensi dasar yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia. Itu tercermin dalam QS. al-Tiin ayat 4 yang tersirat bahwa Allah menciptakan manusia dalam keadaan yang sebaik-baiknya. Dalam artian, baik secara jasmani dan ruhani. Indikator lain yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna adalah pemberian mandat kekhalifahan di muka bumi. Allah memberikan mandat kepada manusia untuk memelihara dan mengkoordinir segala urusan di bumi bukan tanpa sebab. Melainkan karena Allah menyematkan potensi agung yang tidak dimiliki oleh makhluk selain manusia, termasuk malaikat. Al-Qur’an sebagai kitab dan tuntunan hidup paripurna bagi umat Islam, memberikan ruang mengenai varietas kecerdsan yang dimiliki manusia. Secara redaksional, Al-Qur’an membahasakan kemampuan berpikir manusia secara distingtif. Setidaknya terdapat 5 term dalam Al-Qur’an yang mengurai mengenai kecerdasan. Di antaranya, ta’aqqul, tafakkur, tadabbur, tafaqquh, dan tadzakkur. Apakah kelima term tersebut mencakup klasifikasi kecerdasan yang ditemukan Sains? Mari kita simak… Memahami IQ, EQ, dan SQ Kompleksitas konstruksional tersusun dalam eksistensi manusia. Kecerdasan, yang tersimbolisasi dari kemampuan berpikir manusia adalah salah satu anugerah yang terbaik se-jagat raya. Faktornya, kecerdasan bukanlah merupakan variabel tunggal yang tidak memuat varietas lainnya. Saintifikasi manusia telah menyajikan ragam jenis kecerdasan yang memenuhi eksistensi manusia secara eksklusif. Diantaranya adalah Intellegent Quotient, Emotional Quetiont, dan Spiritual Quetiont. IQ Intellegent Quotient Dalam bahasa Indonesia dikenal dengan kcerdasan intelegensi. Konsep IQ pertama kali diperkenalkan oleh Willian Stern. Seorang psikolog berkelahiran Jerman dalam bukunya The Psychological Methods of Testing Intelligence. Intelegensi merupakan suatu kemampuan berpikir yang primer. Cakupannya adalah kemampuan berbahasa, mengingat, rasio, matematis, dan persepsif. Intellegent Quotient menjai instrument penting bagi seseorang dalam kemampuan menyerap nilai dari satu pelajaran. Intan Fazrin, Mengembangkan Intelegensi Quotient pada anak, 36. 2. EQ Emotional Quetiont Emotional Quetiont atau kecerdasan emosional memberikan dominasi yang besar terhadap self-controlling. DanielGoleman, psikolog California yang memprakarsai kajian Emotional Quetiont, secara spekulatif menerangkan bahwa EQ merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan, memotivasi, dan memosisikan diri dalam keadaan yang tepat. Selain itu, Emotional Quetiont juga merupakan kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif bertindak untuk menghadapi seluruh aspek kehidupannya. Al. Tridhonanti, Meraih Sukses dengan Kecerdasan Emosional, 100. 3. SQ Spiritual Quotient Awal abad ke-20, IQ menjadi isu besar dalam ranah intelektual. Setelah itu Daniel Goleman memumunculkan gagasan EQ-nya pada tahun 1900-an, sebagai bentuk respo atas lahirnya gagasan IQ. Sedangkan pada akhir abad 20-an, Danah Zohar dan Ian Marshal mempresentasikan varietas kecerdasan baru, yaitu Spiritual Quotient. Yang merupakan kemampuan jiwa untuk melakukan segala sesuatu berdasarkan sisi positif dan mampu memberikan makna spiritual dalam setiap perbuatan. Secara orientatif, kecerdasan spiritual mengarahkan seseorang menuju puncak kesadaran jati dirinya sebagai manusia Danah Zohar dan Ian Marshal, SQ Kecerdasan Spiritual, 3. Intelegent Quetiont dalam Tinjauan Al-Qur’an Dalam al-Qur’an termuat varietas terma tentang memperdayakan akal. Konteks intelegensi dalam ranah keberfikiran yang disimbolisasi dengan kemampuan menyerap pelajaran serta memberikan ulasannya. Selain itu, terdapat juga indikasi kemampuan logis dan scientic dalam konteks intelegensi. Term ta’aqqul dalam Al-Qur’an memberikan implikasi tentang pengoptimalan daya pikir intelektual. Oemar Hamalik, dalam bukunya Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, menyebutkan bahwa ta’aqqul merupakan sistemasi berpikir logis yang memiliki kapabilitas dalam penguasaan materi serta memberikan penjelasannya. Term ta’aqqul, salah satunyatermaktub dalam Al-Qur’an Surat al-Baqarah 242, Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, 121. كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ ࣖ Emotional Quetiont dalam Tinjuan Al-Qur’an Emotional Quetiont erat kaitannya dengan self-control. Selain itu juga memiliki kepekaan sosial tinggi sehingga mampu mengimplementasikan tindakannya secara kolektif. Hal tersebut sesuai dengan term dalam Al-Qur’an yang mengindikasikan kemampuan kognitif manusia atau kemampuan dalam ranah psikologis, yaitu tafakkur atau al-Fikr. Aspek kejiwaan yang tercakup dalam term al-Fikr yaitu aspek afektif rasa, dan psikomotoris karsa. Pada dasarnya, fungsi kognitif pada manusia ini menjadi penggerak serta pengontrol tindakan manusia. Kemampuan mengntrol diri ini menjadik diferensiasi antara manusia dan hewan. Secara lahiriah, hewan tidak memiliki keampuan kognitif untuk mengontrol dirinya, ehingga bisa dikatakan hewan tidak memiliki emotional quetiont sebagaimana yang dimiliki oleh manusia Yusuf Qardawi, al-Aql Wa al-Ilm fi al-Qur’an al-Karim, 41. Lafadz tafakkur dalam Al-Qur’an termaktub dalam QS. al-Hasyr ayat 21 لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗوَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ Artinya “Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.” Selain tafakkur, indikasi lain yang memuat aspek-aspek emotional dalam terma keberfikiran adalah lafad tadabbur, yang terdapat dalam QS. al-Nisa’ ayat 82, اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ ۗ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا Artinya “Maka tidakkah mereka menghayati mendalami Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari Altlah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” Dalam Tafsir al-Misbah, karya M. Quraish Shibah, dijelaskan bahwa untuk memahami al-Qur’an butuh perhatian yang besar sehingga tidak terjermbap dalam kesalahan pemahaman. Bisa disimpulkan bahwa tadabbur disini memuat kemampuan mempelajari dengan cermat dan teliti. Seseoang yang cermat memiliki kemampuan yang bertahap, yaitu receiving, responding, valuing, organizing, dan characterizing. Kelima tahapan diatas, merupakan indicator utama dalam pembentukan karakter seseorang Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, 54-57. Spiritual Quotient dalam Al-Qur’an Kecerdasan spiritual, sebagaimana diterangkan di atas, bertendensi kepada pemahaman keagamaan. Dalam artian, seseorang mampu bertindak dengan latar belakang pemahaman keagamaan. Dalam AL-Qur’an, terdapat 2 term yang mengindikasikan nilai-nilai spiritualitas, yakni tafaqquh dan tadzakkur. Tafaqquh berasal dari kata al-fiqhu yang dimaknai oleh Al-Raghib al-Ashfahani sebagai upaya mengetahui yang abstrak dengan pengetahuan yang konkret. Dalam satu literature terdapat suatu pengistilahan, “Tiap-tiap sesuatu itu memiliki tiang, dan tiang agama islam adalah al-Fiqhu”. Secara garis besar, upaya untuk memahami Islam, diupayaka dengan proses tafaqquh di dalamnya M. Dhuha Abdul Jabar dan N. Burhanuddin, Ensiklpoedi Makna Al-Qur’an, 513. Sedangkan tadzakkur, terbentuk dari kata dzkir, yang artinya mengingat. Said bin Jubair, mengartikan dzikr dengan ketaatan kepada Tuhan sehingga selalu mengingat-Nya. Hamka juga menambahkan bahwa kemampuan tadzakkur merupakan kemampuan mengingat terhadap materi dengan berlandaskan keimanan. Agus Nur Qowim, Tinjauan Al-Qur’an Tentang Term Kecerdasan, 130. Kesimpulan al-Qur’an shaalihun li kulli zaman wa makaan. Mungkin kalimat tersebut yang sesuai untuk menutup tulisan ini. Faktornya, al-Qur’an selalu memberikan gambaran-gambaran autentik dan relevan dengan temuan-temuan ilmiah yang terbaru. Penyunting Ahmed Zaranggi Jangan Pandang anak sebelah mata. Foto VOI Indonesia Qur’an Surat Lukman 3112, Allah berfirman “ Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.” ———————– –Al Quran mengajarkan orang tua untuk mendidik anak menjadi generasi yang kuat, sebagaimana disebutkan dalam Surat Annisa 49 Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” Kita perlu mewariskan generasi yang kuat, dimulai dari anak-anak. Kuat disini mencakup empat aspek. Kuat dalam hal fisik, kuat dalam hal ilmu, kuat dalam hal iman tidak musyrik dan kuat dalam hal karakter atau akhlak. Anak-anak perlu kita beri makan yang bergizi baik, perlu diberikan makanan ilmu pengetahuan yang setinggi-tingginya, perlu diajari mengenai mengikis kemusyrikan dalam dirinya dan orang lain ingat musyrik kepemilikan, pengabdian, aturan, perlindungan/perilaku dan figur!, perlu diajari akhlak dan karakter yang sesuai dengan al Quran. Tujuan mendidik anak adalah agar mereka dapat menjadi generasi yang menjadi pemimpin atau imam bagi orang yang bertakwa, sebagaimana disebutkan dalam Surat Al Furqan 2574, Dan orang orang yang berkata “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Menjadikan anak sebagai imam bagi orang-orang bertakwa berarti mendidik anak menjadi anak yang bertakwa terlebih dahulu, yaitu manusia yang selalu bersegera mohon ampun, bersedekah dalam kondisi lapang dan sempit, menahan amarah, memaafkan orang lain dan berbuat baik Surat Ali Imran 3133-134. Ajarkan Ke-esaan Allah Manusia yang memahami Al Quran tetap akan memikirkan nasib anak-anaknya,Manusia yang memahami Al Quran dan dirinya sedang mengalami sakratul maut, dia akan membuktikan kebenaran Al Quran bahwa pertanyaan manusia yang sedang sakratul maut adalah pertanyaan tentang tauhid apakah selama hidup kita sedang meng-esakan atau mempersekutukan Allah. Oleh karena itu, ketika orang ini kemudian memikirkan anaknya, yang terpikir bukanlah siapa yang memberikan rezeki, siapa yang menyekolahkan dan sebagainya, tetapi yang pasti terpikirkan adalah apakah bagaimana mereka akan tumbuh menjadi anak yang meng-esakan Allah bukan menjadi anak yang mempersekutukan Allah, sebagaimana disebutkan dalam Qur’an Surat Al-Baqoroh 133, Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan tanda-tanda maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” Ajaran kepada anak tentang meng-esakan Allah tidak hanya diajarkan ketika sedang sakratul maut, namun juga selama hidup kita, sebagaimana disebutkan dalam Qur’an Surat Lukman 3112, Allah berfirman “ Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Mengingat sangat pentingnya ini diajarkan kepada anak-anak, maka pada saat kematian menjemput pun, pesan inilah yang perlu disampaikan kepada anak-anak, istri dan kerabat. Apa yang terdapat di sisi kita ini pada suatu saat akan lenyap, yang abadi adalah nafs manusia, sebagaimana disebutkan dalam Qur’an Surat An Nahl 1696 yang artinya “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. Rasa kekhawatiran untuk meninggalkan apa yang telah dititipkan Allah atas diri kita selama hidup ini akan menimbulkan perasaan memiliki dan sikap bakhil yang memperberat perpisahan kita dengannya, sebagaimana disebutkan dalam Qur’an Surat Ali Imran 3180 yang artinya “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan yang ada di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Jangan Berprasangka Buruk Jangan pernah berprasangka buruk kepada Tuhan bahwa rezeki anak dan istri kita adalah harus melalui saya sebagai seorang suami, sebagaimana disebutkan dalam Qur’an Surat Al Hijr 1520. “Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan Kami menciptakan pula makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya.” Boleh jadi sebenarnya rezeki itu adalah rezeki anak dan istri kita yang disalurkan Allah melalui diri kita dimana tanpa kita pun mereka akan mendapatkannya. Ada pertanyaan besar pada diri saya sendiri dan anda, masihkah kita merasa khawatir akan kematian? Kalau masih, berarti masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan dalam pembuktikan tauhid ini kepada Allah. */sumber artikel tulisan Sukardi SThi, fasilitator paham qurani - Alquran dapat berpengaruh besar terhadap jiwa dan kecerdasan. Prof Dr Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya “Mukzijat Alquran” telah “Cukup sudah pengetahuan semua orang terpelajar bahwa kehadiran Alquran ditengah-tengah masyarakat Arab pada 15 abad yang lalu. Telah menimbulkan pengaruh yang sedemikian besar dalam kehidupan manusia”.Alquran berarti “bacaan”, asal kata “Qara’a”. Dapat didefinisikan sebagai kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam melalui perantara Malaikat Jibril, untuk dijadikan pedoman bagi hidup memiliki bahasa yang indah dan agung namun dalam Alquran banyak ayat-ayat dalam sejumlah surah yang dicantumkan berulang-ulang kali. Hal ini membuat sarjana Barat atau orientalis ketika membaca Alquran menjadi bingung dan menganggapnya sebagai bacaan terberat di Amstrong dalam tulisannya “Muhammad Sang Nabi” menyebutkan “Orang Barat cenderung melihat Alquran penuh pengulangan yang membosankan. Namun sebenarnya Alquran tidak dirancang untuk dibaca secara menyendiri, melainkan untuk dibaca sebagai ibadah."Alquran ditulis dalam bahasa yang sangat indah, kompleks, padat dan penuh kiasan. Alquran tidak dimaksudkan untuk dibaca sebagaimana kitab lain, Alquran dibaca dengan merasakan kehadiran Tuhan”.Penelitian Terhadap AlquranJika Alquran dibaca secara tepat menurut penelitian ternyata berdampak besar bagi jiwa dan kesehatan tubuh. Dr. Al-Qadhi melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat berhasil dengan mendengarkan bacaan Alquran, seorang muslim baik yang mereka berbahasa Arab maupun bukan. Ternyata dapat merasakan psikologis yang sangat besar. Misalnya penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa. Dan juga dapat menangkap berbagai penyakit, merupakan hal umum yang dirasakan yang menjadi objek tersebut ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru. Yang bisa untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran hasil uji coba ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan menyembuhkan Alquran disampaikan dalam Konfrensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984. Dr Nurhayati dari Malaysia pada tahun 1997 mengungkapkan penelitiannya bahwa bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan Alquran dari tape recorder. Ternyata menunjukan respon tersenyum dan menjadi lebih kita mendengarkan musik klasik dapat mempengaruhi kecerdasan Intelektual IQ dan kecerdasaan emosi EQ. Bacaan Alquran lebih dari itu, selain mempengaruhi kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, bacaan Alquran mempengaruhi kecerdasan spiritual SQ.Alquran Dapat Mengetarkan Jiwa dan Menembus QolbuAyat-ayat Alquran yang dibaca akan mampu menembus jiwa seseorang sehingga ia akan merasakan kedamaian, dan kehadiran Tuhan dalam Qalbunya. Untuk lebih lengkap, lihat karya Imam Musbikin berjudul “Terapi Shalat Tahajud Bagi Penyembuhan Kanker”.Gibb dalam bukunya “Mohammadanisme” menuliskan “Tidak seorang pun dalam seribu lima ratus tahun telah memainkan alat bernada nyaring yang demikian mampu dan demikian berani dan demikian luas getaran jiwa yang diakibatkannya seperti apa yang dilakukan Muhammad melalui Alquran." Umar bin Khattab merasa akan kehadiran Tuhan dalam jiwanya sehingga ia benar-benar yakin bahwa Alquran benar-benar firman Alquran disebutkan “Sesungguhnya, orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah keimanan mereka, dan kepada Tuhan merekalah, mereka bertawakal”.Alquran Sebagai Ilmu PengetahuanPara Ulama dan intelektual muslim terdahulu menjadikan Alquran sebagai mahkota ilmu pengetahuan sehingga mereka dengan mudah mempelajari, menghafal, dan menguasai berbagai ilmu dan mendengarkan Alquran akan menambah daya ingat yang sangat kuat, disiplin, dan memiliki ketentraman jiwa. Intelektual yang jauh dari Alquran akan membuat hatinya mati sehingga walau ia berhasil mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Namun jiwanya akan terganggu yang akibatnya ia tidak memiliki moral dan etika dalam Qutb dalam bukunya yang terakhir berjudul “Ma’alim Fi Athariq” menyatakan bahwa setiap muslim yang menguasai Alquran maka Allah akan bukakan tabir dari orang tersebut sehingga ia mampu mengungkapkan rahasia-rahasia yang terkandung dalam inilah sebenarnya rahasia dibalik kecerdasan para Ulama dan Intelektual muslim generasi terdahulu yaitu mereka menguasai Alquran sehingga Allah membukakan berbagai ilmu pengetahuan yang belum diketahui manusia dan mereka diberikan keistimewaan oleh Allah telah menegaskan dalam Alquran surah al Baqarah ayat 282 "Tingkatkan takwamu pada Allah maka Allah akan ajarkan ilmu pengetahun". Oleh sebab itu, Ibnu Sina mengungkapkan agar anak menjadi secerdas dirinya yang harus dilakukan adalah ajarkan pada anak tersebut sejak usia 6 tahun sampai 14 berupa membaca dan menghafalkan Alquran selain itu ajarkan juga mengenai Fikih, Akhlak, hidup bersih, olahraga, setelah 14 tahun baru ajarkan ilmu yang sesuai bakatnya,Prof Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam.Tentu hal ini berbanding terbalik dengan kebanyakan orang tua sekarang, anak-anaknya sejak usia balita yang pertama diajarkan adalah bagaimana anak tersebut mahir bermain game online, mahir berhitung, dan mahir berbahasa adalah anak tersebut tidak dilatih memiliki kecerdasan intelektual, keceradasan spiritual dan kecerdasan emosional. Maka untuk itu, perbanyaklah membaca Alquran, renungi maknanya dan jadikan Alquran sebagai mahkota ilmu kita dapat menjadi muslim yang senantiasa memiliki ketenangan jiwa. Dan kita juga punya daya ingat yang kuat, cerdas secara intelektual dan spiritual serta berakhlak adalah Alumni Sekolah Tinggi Hukum Yayasan Nasional Indonesia STH-YNI, Pematangsiantar Mengapa kamu mendatangi laki-laki, bukan perempuan, untuk memenuhi syahwat-mu? Sungguh, kamu adalah kaum yang melakukan perbuatan bodoh.”

ayat alquran tentang kecerdasan